Pages

Selasa, 22 April 2014

Coffee



Cinta itu seperti secangkir kopi, banyak jenis dan ragamnya. Kopi punya banyak variasi, seperti cappucino dengan tambahan krim, susu, dan cokelat. Atau kopi latte dan macchiato yang punya takaran susu berbeda. Ada juga jenis melya yang manis dengan penambahan coklat bubuk dan madu. Bahkan, dengan tambahan sesendok gula sekalipun, rasa kopi akan berbeda.

Begitu juga dengan cinta, ada orang yang mencintai karena parasnya, senyumnya, keluarganya, hartanya, bahkan karena kebiasaan unik si kekasih. Tak bisa dipungkiri, banyak orang mencintai kekasih mereka karena ada alasan tertentu sekecil apa pun itu, layaknya kopi dicampur bahan lain. Tidak ada yang salah, bahkan mungkin tambahan ingredients itu membuatnya jadi lebih nikmat. Bergantung pada selera masing-masing.

Beberapa orang menyukai kopi hitam. Tanpa campuran apa pun, kopi saja. Sama seperti ‘cinta saja’ tanpa alasan. Bagi beberapa orang, rasanya nggak enak, pahit. Namun, pecinta kopi hitam tak berkata demikian.

Black coffee memiliki keistimewaan tersendiri dari wangi murni kopi, juga rasa pahitnya. Sama seperti ‘cinta saja’, ada sensasi debar jantung tanpa alasan yang sering kali membuat orang jadi tidak logis, buta, gila. Pahit. Orang yang memiliki rasa ‘cinta saja’ akan mengecap rasa pahit.

Cinta orang tua kepada anaknya, termasuk salah satu contoh secangkir black coffee. Cinta saja yang tulus. Meski mereka harus kerja keras demi kebahagiaan si anak, rela bangun tengah malam hanya karena bayi pipis, atau seorang ayah yang harus lembur berhari-hari demi bisa membeli sekotak susu. Tapi mereka tulus dan enjoy. Karena rasa pahit masih tetap bisa dinikmati. 

Jangan lupa, kopi dan cinta adalah candu!