Cinta itu seperti secangkir kopi,
banyak jenis dan ragamnya. Kopi punya banyak variasi, seperti cappucino dengan tambahan krim, susu,
dan cokelat. Atau kopi latte dan macchiato yang punya takaran susu
berbeda. Ada juga jenis melya yang
manis dengan penambahan coklat bubuk dan madu. Bahkan, dengan tambahan sesendok
gula sekalipun, rasa kopi akan berbeda.
Begitu juga dengan cinta, ada
orang yang mencintai karena parasnya, senyumnya, keluarganya, hartanya, bahkan
karena kebiasaan unik si kekasih. Tak bisa dipungkiri, banyak orang mencintai
kekasih mereka karena ada alasan tertentu sekecil apa pun itu, layaknya kopi
dicampur bahan lain. Tidak ada yang salah, bahkan mungkin tambahan ingredients itu membuatnya jadi lebih
nikmat. Bergantung pada selera masing-masing.
Beberapa orang menyukai kopi
hitam. Tanpa campuran apa pun, kopi saja. Sama seperti ‘cinta saja’ tanpa
alasan. Bagi beberapa orang, rasanya nggak
enak, pahit. Namun, pecinta kopi hitam tak berkata demikian.
Black coffee memiliki keistimewaan tersendiri dari wangi murni
kopi, juga rasa pahitnya. Sama seperti ‘cinta saja’, ada sensasi debar jantung
tanpa alasan yang sering kali membuat orang jadi tidak logis, buta, gila.
Pahit. Orang yang memiliki rasa ‘cinta saja’ akan mengecap rasa pahit.
Cinta orang tua kepada anaknya,
termasuk salah satu contoh secangkir black
coffee. Cinta saja yang tulus. Meski mereka harus kerja keras demi
kebahagiaan si anak, rela bangun tengah malam hanya karena bayi pipis, atau
seorang ayah yang harus lembur berhari-hari demi bisa membeli sekotak susu.
Tapi mereka tulus dan enjoy. Karena
rasa pahit masih tetap bisa dinikmati.
Jangan lupa, kopi dan cinta adalah candu!