Tidakkah kamu tahu, temanku yang miskin, bahwa kemiskinan yang menderamu justru adalah yang mengilhami kamu dengan pengetahuan tentang keadilan dan membuat kamu mampu melihat esensi kehidupan, maka kamu akan merasa cukup dengan takdir yang ditetapkan Tuhan.
Aku katakan "pengetahuan tentang keadilan" karena dengan kekayaannya, si kaya tidak memperhatikan pengetahuan ini. Dan aku katakan "esensi kehidupan" karena yang kuat dialihkan perhatiannya dari pengetahuan karena mengejar kejayaan. Maka berbahagialah dalam keadilan, karena kamu adalah lidahnya, dan dalam kehidupan, karena kamu adalah bukunya. Bergembiralah, karena kamu suumber kebajikan bagi mereka yang dermawan kepadamu dan pemberi kebajikann kepada mereka yang menyalami tanganmu.
Jika kamu paham, temanku yang memelas, bahwa beban - beban yang telah mengalahkan dirimu adalah kekuatan yang sama yang menerangi hatimu dan meninggikan jiwamu dari lantai ejekan ke langit - langit kehormatan, maka kamu akan puas dengan keadaanmu dan akan menerima susah senangnya sebagai pendidikanmu. Kamu akan mengetahui bahwa kehidupan adalah rantai dengan kaitan - kaitan, sebagian terjalin dengan rantai - rantai lainnya, dan bahwa kesedihan adalah kait emas yang memisahkan penerimaan terhadap akibat - akibat dari masa kini dari kenikmatan atas kesenangan - kesenangan masa depan, seperti pagi yang memisahkan tidur dari bangun.
Temanku, kemiskinan membuka kemuliaan jiwamu, dan kemewahan membuka kecendrungan - kecendrungan melakukan kesalahn. kesedihan membuat emosi menjadi nikmat, sementara kesenangan mengotorinya. Karena manusia masih menggunakan kekayaan dan kesenangan sebagai sarana menuju suukses, seperti juga mereka melakukan kejahatan atas nama Kitab yang melarangnya, dan melakukan atas nama kemanusiaan apa - apa yang dilarang oleh kemanusiaan.
Seandainya kemiskinan bisa dihapus dan kesedihan dihilangkan, maka jiwa akan menjadi gulungan kertas kosong kecuali beberapa huruf yang menandakan egoisme dan kegemaran kepada kemewahan dan kata - kata yang menunjukkan nafsu duniawi. Karena aku melihat, dan menemukan ketuhanan, esensi kemanusiaan dalam umat manusia yang tidak bisa dibeli dengan emas, atau dihiasi dengan nafsu - nafsu kaum foya - foya. Aku berpikir dan melihat mereka yang kaya menjauhi ketuhanan mereka, dan menjaga kekayaan mereka dan para budak zaman membuang diri ilahiah mereka untuk mengikuti nafsu - nafsu mereka.


