Pages

Rabu, 10 September 2014

Sebelum Sarjana

Halo!
Ini sepucuk tulisan sebelum menyelesaikan studi sebagai mahasiswa di kampus peradaban ini.

Setiap tahapan telah terlewati, mulai masa perkuliahan hingga berada di tahap ini. Flashback ke masa dimana "hitam-putih" masih berkibar ditubuh mahasiswa baru khususnya kami angkatan '10 salah satu universitas negeri di Makassar. yeah.. 

Sempat mengingat masa dulu, merasa salah jurusan dan sebagainya. Namun, setiap detik merasa begitu berarti bersama kalian 'teman-teman' seperjuanganku. Lama kelamaan rasa 'salah jurusan' itu kian memudar, dan kini perjuangan sudah hampir mencapai titik akhir. Nah, kebersamaan pun kian terasa begitu berarti.

Mulai proposal, penelitian, seminar hasil, dan ujian meja.
Sesaat kemudian termenung dan merasa kalau masih ingin bersama 'kalian', namun life must go on! Sebentar lagi akan menyambut dunia nyata, dimana kita berjalan masing-masing.

Untuk temanku sekalian! Sepenggal lagu untuk kalian:
"Kamu sangat berarti, istimewa dihati, s'lamanya rasa ini. Jika tua nanti kita t'lah hidup masing-masing, Ingatlah hari ini!"
(Project Pop-Ingatlah Hari Ini)

Thanks for you all my best friend, ak3 ak4. I never forget our sweet memory!

Salam, Rykaa.

Cerita : Waktu Itu!



Pernah merasakan Jatuh Cinta?

Iyalah, pernah.. Cerita ini tentang Jatuh Cinta yang membuatku menjadi perempuan pemberani. Haha!

Kisah kali ini tentang jatuh cinta pada sesosok pria yang mungkin biasa-biasa saja menurut mereka, tapi sungguh luar biasa karena dia bisa membuatku terpontang panting, jatuh-bangun, dan bergulat antara rasa dan logika-ku. Dia sosok yang dulunya cool, simple, friendly, yah karena jarang berjumpa akhirnya cukup sampai disitu batas pandangku tentang dia.

Singkat cerita...

Jauh dari keramaian tepatnya disudut kamar klasik-ku ini, ku paksa otakku berpikir keras tentang apa yang harus ku lakukan? Dia, pria yang menurutku aneh dan menjengkelkan berhasil mengotak-atik perasaanku selama berbulan-bulan. Jangankan untuk menelfonnya, mengetik pesan saja muncul seribu bahkan berjuta keraguan. Dipikiranku hanya takutnya nanti malah diacuhkan, ya kedengarannya cukup ngarep yah? Tapi memang iya, sih!


Tepatnya malam minggu, ku ambil handphone dan mencoba untuk menelfonnya. Yah perdebatan hebat lagi antara logika dan rasa-ku. Telfon atau tidak? Pasti atau tidak? Takut atau tidak? Yang jelas butuh waktu lama untuk menekan tombol hijau. Pria menjengkelkan yang berada diseberang sana, memang cukup cuek untuk urusan hati (setahuku), makanya berat untuk menekan tombol hijau. Niatan awal memang untuk cerita lepas, tapi tak lepas dari itu terbesit untuk mengetahui apa isi hatinya. Cukup penasaran, akhirnya terdengar bunyi “tuuutt...tuuuttt..ttuuutt”. Refleks, ternyata tombol hijau tertekan juga. Namun, sayang! Harus menunggu selama sejam, berhubung beliau ada kelas, jadi mesti sabar.

Sejam berlalu...

Pesan singkat di blackberry kesayanganku menyatakan bahwa “kelas sudah usai”, berarti saatnya menekan tombol hijau lagi. Berbulan-bulan menunggu moment yang tepat untuk berbicara dengan dia akhirnya datang juga. Percakapan berlangsung bebas, tidak pernah ada perbincangan sebebas dan se-plong itu sebelumnya. Pembicaraan tentang skripsi, setelah skripsi, dan lain-lain hingga masuk pada inti-nya pun mulai terasa. Yah, sebenarnya beberapa hari sebelumnya via blackberry messanger sudah ada ultimatum penolakan atas perasaan itu, sih! Tapi selama belum keluar dari mulut beliau, itu artinya belum sah alias gak afdol!


Ku beranikan diri untuk memulai, dan mengutarakan perasaan itu. Kaget, takut, malu, degdegserr, semua bercampur aduk! Malam yang kelam. “Ya pada dasarnya emang penolakan, karena sebelumnya sudah ada ultimatum kan? Ini hanya meminta kepastian!”, sok tegar hatiku berbicara seperti itu. Ya, beberapa alasan yang bisa menjadikan landasan penolakan malam itu. It’s my first time, menyatakan perasaan lebih dulu ke pria yang aku titipkan perasaan. Ini semua karena kutipan, “kalau cinta jangan diam!”. Akhirnya, semua menjadi jelas. Dan saatnya kembali ke dunia nyata, dimana aku harus melalui hari-hariku dengan merasakan ”cinta dalam diam”.

Sambungan telepon seluler terputus tepat sejam pembicaraan berlangsung, akhirnya menjadi bom waktu yang meledak dengan sendirinya. Rasanya plong! Bebas, tanpa beban pikiran lagi. Mari melanjutkan mimpi dan big plan lainnya yang menjadi list setelah hal itu.

Berani mencoba, jujur, dan apa adanya. Sudah ku lakukan dengan baik. Saatnya berlapang dada, dan berusahaa menerima setiap kondisi yang ada. Karena hidup tidak selamanya berbahagia! Terima kasih untuk Pemeran Utama, mimpiku masih akan terus berlanjut.

Cerita ini tidak jelas rekayasa atau fakta! Hanya penulis, pemeran utama, dan Tuhan yang tahu!

Thank’s for reading, gaeesss!

Rabu, 03 September 2014

Latepost!

Bismillah...
Tulisan ini mewakili sebagian rasa yang mungkin beberapa waktu kedepan akan aku lupakan.
Aku pernah berharap dan begitu percaya dan yakin dengan seorang lelaki yang melumpuhkan hatiku dalam waktu cepat.
Efeknya sangat menyakitkan hingga untuk bangkit pun aku sulit!
Namun, dalam setiap luka, Tuhan selalu punya penawarnya.
Diacuhkan, diabaikan, dan dicampakan!
Itulah yang mampu mewakili segalanya.
Terima kasih untukmu, yang pernah mengajarkan tentang HARAPAN PALSU!

Latepost, Samata, 6 July 2014

 
Ryka