Pages

Rabu, 11 Juni 2014

Catatan: "Lewat Tengah Malam"



Samata, 05 Juni 2014.
Pukul 03.42 WITA

Dalam kamar yang hening berkawan hembusan angin yang terputar dalam kipas angin itu, aku termenung tanpa tau penyebab pasti dari kesulitanku untuk tidur malam ini. Hingga tiba dini hari pun aku masih terus berpikir dan berpikir dengan mata yang tadinya ku pikir akan sayup ketika sebuah buku refrensi skripsiku ku baca. Namun, lihatlah! Mataku masih terang benderang...

Detik demi detik berlalu.. pikiran ku kian terarah pada seseorang yang sering menembus masuk ke pikiranku belakangan ini.
Ku kira aku memang tidak bisa menghilangkan sesosok pria yang telah merebut perhatianku beberapa hari ini. Belakangan aku berfikir kalau dia itu lebih dari yang lain. Yah, hanya Tuhan yang tahu apa makna dibalik semua kebaikan-kebaikannya. Kata mbak-ku, “namanya juga pedekate, pasti yang nampak yah baiknya semua!”. Ada benarnya juga! Tapi sejujurnya, kepekaanku terhadap hal-hal demikian sudah pudar setelah aku memfonis bahwa hatiku cedera serius karena luka yang teramat menyakitkan beberapa bulan silam.
Aku berusaha bangkit dari kesedihan yang telah lalu dan berharap hatiku yang cedera dan semakin liar, bisa dijinakkan lagi. Seiring berjalannya waktu tanpa aku sadari, aku telah lupa rasanya diperhatikan oleh sosok pria yang ku sayangi. Ya begitulah kehidupan yang kulalui, sedikit sulit namun harus terus berjalan. Hingga kejadian sosmed (social media) itu pun terjadi.
Perkenalan, keakraban, chemistry pun terjalin.
Pertemuan dan komunikasi yang intens pun membuat kedekatan diantara kami. Namun, sungguh aku dalam kebingungan yang teramat akut! Aku tidak bisa membedakan mana yang pure sebagai teman, mana yang pendekatan dan pengenalan lebih dalam tentang pribadi masing-masing. Seperti yang ku katakan sebelumnya, aku kurang peka dengan hal-hal berbau pedekate.
Aku memang terpesona dengan caranya memperlakukanku, dengan setiap perkataannya, dengan paras tentunya. Satu lagi nilai plus yang dia miliki, “dia shalat 5 waktu”. Ini membuatku semakin butuh akan dirinya! Setiap apa yang dia katakan, setiap nasehat yang diberikan mudah dicerna oleh akal pikiranku tanpa membantah sedikit pun (padahal aku susah diatur). Subhanallah! Amazing! Tapi itu semua belum memberikan kejelasan tentang perasaanku terhadapnya.
Dalam setiap doa yang kupanjatkan, aku memohon petunjuk-Nya terhadap apa yang aku rasakan. Mungkinkah ini cinta? Atau hanya sebatas kekaguman saja? Salah seorang kakak yang juga senior dikampus ketika berdiskusi mengenai cinta denganku dia mengatakan, “cinta itu egois, selalu ingin memiliki” menurutnya. Ada benarnya! Terbesit dibenakku untuk memilikinya. Namun, disisi lain aku pernah membaca kutipan mengenai “cinta dalam diam”. Haruskah aku berdiam tanpa berusaha? Ataukah aku harus menampakkan perasaanku dan mengakui semua didepannya? Ah, lupakan!
Beberapa hari berlalu, tiba-tiba ada perubahan sikap yang dia tunjukkan. Yah, intensitas komunikasi sedikit berkurang. Namun, tetap ku jaga dengan jalan lebih dulu mengirimi pesan singkat. Sedikit menjatuhkan harga diri sih, tapi tidak apa-apa. Terkadang ingin mundur untuk memastikan perasaan, namun dikuatkan lagi oleh sahabatku yang berkata, “menyerang adalah pertahanan terbaik”. Super sekali!
“Ini adalah sebuah kebodohan, mungkin. Karena aku menghabiskan waktu hanya untuk memikirkan dia yang belum tentu memikirkanku”. Ah, lagi-lagi rasionalitasku mengobrak-abrik ke-melow-an ku. Ini atau itu? Hanya membuatku pusing! Namun lari dari kenyataan adalah bukan style-ku. Pertempuran hati baru dimulai, mungkin saja keteguhan hatiku sedang diuji? Aku harus bertahan tanpa harus berharap. Hanya untuk memastikan sebenarnya apa yang aku rasakan dan apa motif dari semua yang dia lakukan terhadapku.

Ketika semuanya mulai mendapatkan titik terang, cerita ini akang berlanjut. To be continue...