Pages

Rabu, 10 September 2014

Cerita : Waktu Itu!



Pernah merasakan Jatuh Cinta?

Iyalah, pernah.. Cerita ini tentang Jatuh Cinta yang membuatku menjadi perempuan pemberani. Haha!

Kisah kali ini tentang jatuh cinta pada sesosok pria yang mungkin biasa-biasa saja menurut mereka, tapi sungguh luar biasa karena dia bisa membuatku terpontang panting, jatuh-bangun, dan bergulat antara rasa dan logika-ku. Dia sosok yang dulunya cool, simple, friendly, yah karena jarang berjumpa akhirnya cukup sampai disitu batas pandangku tentang dia.

Singkat cerita...

Jauh dari keramaian tepatnya disudut kamar klasik-ku ini, ku paksa otakku berpikir keras tentang apa yang harus ku lakukan? Dia, pria yang menurutku aneh dan menjengkelkan berhasil mengotak-atik perasaanku selama berbulan-bulan. Jangankan untuk menelfonnya, mengetik pesan saja muncul seribu bahkan berjuta keraguan. Dipikiranku hanya takutnya nanti malah diacuhkan, ya kedengarannya cukup ngarep yah? Tapi memang iya, sih!


Tepatnya malam minggu, ku ambil handphone dan mencoba untuk menelfonnya. Yah perdebatan hebat lagi antara logika dan rasa-ku. Telfon atau tidak? Pasti atau tidak? Takut atau tidak? Yang jelas butuh waktu lama untuk menekan tombol hijau. Pria menjengkelkan yang berada diseberang sana, memang cukup cuek untuk urusan hati (setahuku), makanya berat untuk menekan tombol hijau. Niatan awal memang untuk cerita lepas, tapi tak lepas dari itu terbesit untuk mengetahui apa isi hatinya. Cukup penasaran, akhirnya terdengar bunyi “tuuutt...tuuuttt..ttuuutt”. Refleks, ternyata tombol hijau tertekan juga. Namun, sayang! Harus menunggu selama sejam, berhubung beliau ada kelas, jadi mesti sabar.

Sejam berlalu...

Pesan singkat di blackberry kesayanganku menyatakan bahwa “kelas sudah usai”, berarti saatnya menekan tombol hijau lagi. Berbulan-bulan menunggu moment yang tepat untuk berbicara dengan dia akhirnya datang juga. Percakapan berlangsung bebas, tidak pernah ada perbincangan sebebas dan se-plong itu sebelumnya. Pembicaraan tentang skripsi, setelah skripsi, dan lain-lain hingga masuk pada inti-nya pun mulai terasa. Yah, sebenarnya beberapa hari sebelumnya via blackberry messanger sudah ada ultimatum penolakan atas perasaan itu, sih! Tapi selama belum keluar dari mulut beliau, itu artinya belum sah alias gak afdol!


Ku beranikan diri untuk memulai, dan mengutarakan perasaan itu. Kaget, takut, malu, degdegserr, semua bercampur aduk! Malam yang kelam. “Ya pada dasarnya emang penolakan, karena sebelumnya sudah ada ultimatum kan? Ini hanya meminta kepastian!”, sok tegar hatiku berbicara seperti itu. Ya, beberapa alasan yang bisa menjadikan landasan penolakan malam itu. It’s my first time, menyatakan perasaan lebih dulu ke pria yang aku titipkan perasaan. Ini semua karena kutipan, “kalau cinta jangan diam!”. Akhirnya, semua menjadi jelas. Dan saatnya kembali ke dunia nyata, dimana aku harus melalui hari-hariku dengan merasakan ”cinta dalam diam”.

Sambungan telepon seluler terputus tepat sejam pembicaraan berlangsung, akhirnya menjadi bom waktu yang meledak dengan sendirinya. Rasanya plong! Bebas, tanpa beban pikiran lagi. Mari melanjutkan mimpi dan big plan lainnya yang menjadi list setelah hal itu.

Berani mencoba, jujur, dan apa adanya. Sudah ku lakukan dengan baik. Saatnya berlapang dada, dan berusahaa menerima setiap kondisi yang ada. Karena hidup tidak selamanya berbahagia! Terima kasih untuk Pemeran Utama, mimpiku masih akan terus berlanjut.

Cerita ini tidak jelas rekayasa atau fakta! Hanya penulis, pemeran utama, dan Tuhan yang tahu!

Thank’s for reading, gaeesss!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar